Ia mengibaratkan kehidupan yang tanpa jeda seperti perangkat yang terus digunakan tanpa henti, sehingga membutuhkan waktu untuk berhenti agar kembali optimal.
Sementara itu, Wakil Ketua II PHDI Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa, menjelaskan bahwa rangkaian Nyepi diawali dengan upacara Tawur Kesanga sebagai upaya penyucian alam dan diri manusia serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ia menambahkan, pawai ogoh-ogoh menjadi simbol pembersihan diri dari sifat-sifat negatif sebelum umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam.
Ketua Panitia, I Wayan Gede Astawa, dalam laporannya menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan Nyepi tahun ini meliputi donor darah, berbagi takjil dan buka puasa bersama, upacara Melasti, hingga puncaknya Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh yang menampilkan empat ogoh-ogoh.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Pemerintah Kota Kupang, aparat keamanan, organisasi keagamaan, serta partisipasi aktif umat Hindu dan masyarakat lintas agama.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









