Rumah itu bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga dapur, ruang tidur, dan ruang kehidupan mereka. Jika hujan turun, air merembes masuk. Jika angin kencang datang, dinding bergetar seolah menunggu waktu untuk tumbang.
Pantauan Selasa, 24 Februari 2026, memperlihatkan kondisi yang jauh dari kata layak huni. Tidak ada fasilitas dasar. Tidak ada jaminan keamanan. Yang ada hanya ketabahan seorang ibu renta yang tetap bertahan dalam keterbatasan.
Ironisnya, Maria Bano mengaku hanya dua kali menerima bantuan BLT desa sepanjang tahun lalu. Selebihnya, ia dan keluarganya bertahan dengan apa adanya. Di tengah berbagai program bantuan sosial yang digaungkan pemerintah, namanya nyaris tak terdengar dalam daftar penerima.
Kisah Maria bukan sekadar cerita kemiskinan. Ini adalah potret nyata bagaimana warga miskin ekstrem bisa luput dari pendataan. Ini adalah wajah sunyi dari sistem yang belum sepenuhnya menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Apa yang disampaikan Gubernur NTT terasa begitu relevan dengan situasi di Kabupaten Malaka. Ketika ada warga yang tergolong mampu justru menerima bantuan, sementara mereka yang benar-benar hidup dalam keterbatasan tidak terdata, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan administrasi melainkan luka sosial yang dalam.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









