Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Saat Gubernur NTT Tegas Soal Data Kemiskinan, Janda Lansia di Malaka Masih Bertahan di Gubuk Nyaris Roboh

Avatar photo
Reporter : Bung Yan Editor: Redaksi
Maria Bano, 71 tahun Seorang Janda di Dusun Halibobo, Desa Weoe

Rumah itu bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga dapur, ruang tidur, dan ruang kehidupan mereka. Jika hujan turun, air merembes masuk. Jika angin kencang datang, dinding bergetar seolah menunggu waktu untuk tumbang.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pantauan Selasa, 24 Februari 2026, memperlihatkan kondisi yang jauh dari kata layak huni. Tidak ada fasilitas dasar. Tidak ada jaminan keamanan. Yang ada hanya ketabahan seorang ibu renta yang tetap bertahan dalam keterbatasan.

Baca Juga :  Gibran Resmi Buka Festival Paskah Pemuda GMIT 2026, Gubernur NTT Tekankan Kedamaian dan Pembangunan Berkelanjutan 

Ironisnya, Maria Bano mengaku hanya dua kali menerima bantuan BLT desa sepanjang tahun lalu. Selebihnya, ia dan keluarganya bertahan dengan apa adanya. Di tengah berbagai program bantuan sosial yang digaungkan pemerintah, namanya nyaris tak terdengar dalam daftar penerima.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Keamanan, Polsek Malaka Barat Gelar Coffee Morning

Kisah Maria bukan sekadar cerita kemiskinan. Ini adalah potret nyata bagaimana warga miskin ekstrem bisa luput dari pendataan. Ini adalah wajah sunyi dari sistem yang belum sepenuhnya menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Baca Juga :  Dari Aktivis Pemuda hingga Pimpinan Golkar, Tokoh Muda Ndoriwoy Siap Pimpin Desa

Apa yang disampaikan Gubernur NTT terasa begitu relevan dengan situasi di Kabupaten Malaka. Ketika ada warga yang tergolong mampu justru menerima bantuan, sementara mereka yang benar-benar hidup dalam keterbatasan tidak terdata, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan administrasi melainkan luka sosial yang dalam.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com

+ Gabung

  • Bagikan