“Hasil pemeriksaan awal di lapangan tidak menemukan indikasi penyakit menular maupun keracunan. Dugaan sementara, kematian ternak disebabkan kondisi cuaca yang sangat ekstrem, yakni hujan terus-menerus disertai kabut tebal dan suhu yang turun hingga 7 derajat Celcius,” ujarnya.
Menurut Marthen, sebagian besar ternak yang mati tidak memiliki kandang yang memadai untuk melindungi dari terpaan angin dan suhu dingin. Akibatnya, sapi-sapi tersebut diduga mengalami penurunan kondisi fisik hingga tidak mampu bertahan.
Pemerintah Kabupaten TTS melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut serta mengambil sampel guna memastikan tidak ada penyakit lain yang menjadi penyebab kematian ternak.
Selain itu, pemerintah juga memberikan obat-obatan dan vitamin kepada sapi-sapi yang masih hidup sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh terhadap cuaca dingin.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan stimulan kepada para peternak yang terdampak. Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah dataran tinggi, kami imbau segera memindahkan ternaknya ke kandang yang lebih terlindung dari angin dan hujan serta menambah pakan agar kondisi ternak tetap terjaga,” kata Marthen.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









