Capaian Kota Kupang yang masuk dalam 10 besar Indeks Kota Toleran serta penghargaan sebagai Kota Damai dan Inklusif menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat memaknai ogoh-ogoh tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap sifat negatif manusia seperti amarah, keserakahan, ego, dan kebencian.
“Kita tidak hanya menyaksikan pawai, tetapi juga belajar untuk berani mengakui dan mengendalikan sifat-sifat buruk dalam diri,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemenangan sejati bukanlah tentang tidak pernah berbuat salah, melainkan keberanian untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
Wali Kota juga menyoroti makna keheningan dalam perayaan Nyepi sebagai ruang refleksi diri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









