Kedua, era Bupati Simeon Pally : Fokus pada pengembangan SDM terutama meningkatkan kualitas pendidikan dan menjaga harga komoditas pertanian, namun ketergantungan pada dana pusat tetap tinggi.
Ketiga, era Bupati Amon Djobo : Berhasil membenahi tata kelola pemungutan pajak/retribusi melalui digitalisasi dan melanjutkan promosi pariwisata ekonomi kreatif daerah, namun belum berhasil menciptakan “mesin” ekonomi baru yang masif.
Untuk keluar dari jebakan “daerah berpotensi besar tapi miskin PAD”, Teguh menekankan perlunya pembangunan mesin ekonomi lokal melalui hilirisasi komoditas unggulan seperti rumput laut, porang, dan jambu mete.
“Selama Alor hanya menjual bahan mentah, nilai tambah akan selalu dinikmati daerah lain. Kita harus menahan nilai tambah itu tetap di Alor,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya monetisasi aset daerah yang terbengkalai serta pembenahan desain kegiatan ekonomi seperti Festival Wisma Raya agar tidak sekadar menjadi ajang seremoni, melainkan panggung transaksi ekonomi melalui promosi kalender event pariwisata budaya ekonomi kreatif bulanan dan tahunan.
Di akhir analisanya, Teguh memberikan apresiasi terhadap langkah kepemimpinan Bupati Iskandar Lakamau dan Wakil Bupati Rocky Winaryo yang mulai melakukan program nyata menuju kemandirian, yakni hilirisasi komoditas unggulan porang.
Ia berharap inisiatif tersebut menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang tidak hanya memperkuat PAD, tetapi juga mampu melindungi martabat tenaga kesehatan dan seluruh sektor layanan dasar di Kabupaten Alor.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
