Ketika dua puasa bertemu, yang diuji bukan hanya iman pribadi, tetapi juga kedewasaan sosial. Apakah kita mampu menghormati waktu ibadah saudara yang berbeda keyakinan? Apakah kita bisa menjaga tutur kata, menjaga suasana, menjaga harmoni?
Di tengah dunia yang sering diwarnai polarisasi dan perpecahan atas nama agama, pertemuan Ramadhan dan Prapaskah justru menjadi panggilan untuk memperkuat persaudaraan lintas iman. Ia adalah pengingat bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah.
Bayangkan sebuah kampung di mana azan Magrib berkumandang, sementara di sudut lain lonceng gereja berdentang. Dua suara, dua tradisi, satu langit yang sama. Bukankah itu gambaran Indonesia yang sesungguhnya?
Puasa mengajarkan empati. Orang yang lapar akan lebih mudah memahami penderitaan mereka yang kekurangan. Orang yang berpantang akan lebih peka terhadap ketidakadilan dan keserakahan. Jika dua puasa ini benar-benar dihayati, maka yang lahir bukan hanya pribadi yang saleh, tetapi masyarakat yang lebih adil.
Ketika dua puasa bertemu, yang seharusnya juga bertemu adalah hati kita dalam keheningan, dalam doa, dalam niat untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.







