Pengendara lain yang mengantre secara normal kadang harus menunggu lebih lama, sementara motor-motor tertentu bisa dengan mudah keluar-masuk jalur pengisian. Di sinilah muncul persepsi adanya perlakuan khusus.
Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan fenomena ini.
Pertama, faktor ekonomi. Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan seperti Malaka mendorong munculnya berbagai cara bertahan hidup.
“Tap bensin” bisa jadi merupakan strategi mencari penghasilan, dengan cara menjual kembali BBM dalam skala kecil.
Dalam konteks ini, pelaku bukan semata pelanggar, tetapi juga bagian dari realitas sosial-ekonomi yang perlu dipahami.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.







