Media sosial, misalnya, sering kali memperbesar konflik yang sebenarnya kecil. Narasi kebencian dapat menyebar dengan cepat jika tidak diimbangi dengan contoh nyata tentang persaudaraan.
Karena itu, kisah toleransi dari NTT seharusnya menjadi inspirasi bagi banyak daerah lain di Indonesia.
Keharmonisan bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Ia hanya membutuhkan sikap saling menghargai dan kemauan untuk melihat sesama manusia sebagai saudara, bukan sebagai lawan.
Paskah dan Idulfitri 2026 mengingatkan kita bahwa nilai-nilai spiritual seharusnya tidak berhenti pada ritual keagamaan saja.
Nilai tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kasih, pengampunan, dan persaudaraan harus menjadi sikap hidup bersama.
Indonesia adalah negara yang dibangun di atas keberagaman. Jika masyarakat mampu menjaga toleransi seperti yang dilakukan oleh banyak komunitas di NTT, maka perbedaan tidak akan menjadi ancaman, melainkan kekuatan.
Akhirnya, ketika lonceng gereja berdentang merayakan Paskah dan takbir berkumandang menyambut Idulfitri, pesan yang sampai kepada kita sebenarnya sama manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih, saling memaafkan, dan menjaga persaudaraan.
Dari NTT, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar wacana. Ia hidup di tengah masyarakat, tumbuh dari kebiasaan saling menghormati, dan menjadi fondasi kuat bagi masa depan Indonesia yang damai.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.







