Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Paskah dan Idulfitri 2026 Datang Bersamaan, NTT Jadi Contoh Toleransi di Indonesia

Avatar photo
Reporter : Bung Yan Editor: Redaksi
Mesjid dan Gereja Berdampingan di Kota Kupang

Media sosial, misalnya, sering kali memperbesar konflik yang sebenarnya kecil. Narasi kebencian dapat menyebar dengan cepat jika tidak diimbangi dengan contoh nyata tentang persaudaraan.

Karena itu, kisah toleransi dari NTT seharusnya menjadi inspirasi bagi banyak daerah lain di Indonesia.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Keharmonisan bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Ia hanya membutuhkan sikap saling menghargai dan kemauan untuk melihat sesama manusia sebagai saudara, bukan sebagai lawan.

Baca Juga :  Polemik Gaji Nakes PPPK Rp300 Ribu di Alor : Cermin Rapuhnya Fiskal Daerah dan PR Besar PAD

Paskah dan Idulfitri 2026 mengingatkan kita bahwa nilai-nilai spiritual seharusnya tidak berhenti pada ritual keagamaan saja.

Nilai tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kasih, pengampunan, dan persaudaraan harus menjadi sikap hidup bersama.

Baca Juga :  Dorong Pelaku Usaha Lebih Maju, Pemkot Apresiasi Expo UMKM di Festival Paskah GMIT

Indonesia adalah negara yang dibangun di atas keberagaman. Jika masyarakat mampu menjaga toleransi seperti yang dilakukan oleh banyak komunitas di NTT, maka perbedaan tidak akan menjadi ancaman, melainkan kekuatan.

Akhirnya, ketika lonceng gereja berdentang merayakan Paskah dan takbir berkumandang menyambut Idulfitri, pesan yang sampai kepada kita sebenarnya sama manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih, saling memaafkan, dan menjaga persaudaraan.

Baca Juga :  Harlah Ke-66 Tahun PMII : Saatnya Kader Turun Tangan, Bukan Hanya Bicara!

Dari NTT, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar wacana. Ia hidup di tengah masyarakat, tumbuh dari kebiasaan saling menghormati, dan menjadi fondasi kuat bagi masa depan Indonesia yang damai.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NarasiTimor.Com

+ Gabung

  • Bagikan